Arsip

Posts Tagged ‘gadis’

AYAmungilYANGdilatihDEWASA

September 2, 2010 Tinggalkan komentar

Tetanggaku, yup tetangga baruku. Mereka selalu memberi inspirasi baru bagi kehidupanku yang belum lama berganti status, suami dari istriku. Benar, sejak 4 April 2010 yang lalu, aku yang baru saja memulai menjalankan episode kehidupan yang berbeda termasuk juga istriku, kami masih harus banyak belajar. Harus banyak belajar, terutama dalam urusan rumah tangga, dan salah satunya adalah anak. Walau kami belum (ada tanda-tanda) dikaruniai anak, tapi tidak ada salahnya kami mulai belajar sejak dini.

Tersebutlah keluarga Aya, yang rumahnya berselang 1 petak kontrakan dari kontrakan yang saya tinggali. Mereka tinggal di kontrakan yang paling ujung.

Kenapa disebut keluarga Aya? Sebenarnya Aya sendiri, memiliki nama asli Zahra, namun kemudian nama panggilan akrabnya baik di rumah dan teman sepermainannya, Aya. Dan Aya merupakan anak perempuan satu-satunya, jadilah keluarga ini dipanggil keluarga Aya.

Dalam urutan keluarga, Aya merupakan anak kedua dari tiga bersaudara, yang kini tengah duduk di Pendidikan Anak Usia Dini (PAUD) yang terletak di kampung sebelah, seberang jalan. Adi adalah kakak sulungnya, yang kini tengah duduk di bangku SMP. Sementara itu adik bungsunya adalah Yusuf, dengan nama panggilan Ucup, usianya sekitar 2 tahunan lebih.

Gambaran keluarga Aya, bukanlah gambaran keluarga yang memiliki harta yang berlebih, bahkan sesekali (atau bahkan sering ya…??!!) Mamahnya meminjam uang kepada bank keliling.


“Pa guru, Pa guru, Aya mah di rumah cuman makan mie. Berasnya ga ada, buat masak nasinya,” ungkap Aya, polos, bercerita kepadaku tentang dia dan keluarganya suatu hari.

Aya memang terbilang anak yang supel, walau untuk mengawali pertemanan sangat malu-malu. Begitu pun ketika dia mengenalku. Semula hanya senyum saja yang ia sampaikan, itupun hanya dari kejauhan. Tetapi ketika sudah mengenalku, ia pun memberanikan diri untuk main ke kontrakanku.

Nah, di atas adalah salah satu ungkapan yang jujur dari seorang Aya. Dari ungkapannya kurang lebih aku bisa mendapatkan gambaran, bagaimana Aya telah dilatih untuk memahami keadaan keluarganya sejak usianya yang dini. Bahkan, saya mengira orangtuanya telah melatih Aya untuk mendewasakan dirinya dengan berbagai keadaan.

Saya juga mengira, Aya pun telah dilatih untuk tidak terlalu rewel menerima kehadiran adik kecilnya, Yusuf (Ucup). Hal ini dapat terbukti sekarang, di usianya yang masih dini yang seharusnya mendapatkan kasih sayang kedua orangtuanya yang ekstra, dia pun harus merelakan kasih sayang kedua orangtuanya dibagi kepada adiknya, sehingga untuk dirinya kurang.

“Aya kalau diantar sekolah sama mamah, cuman berangkatnya doang. Terus Aya ditinggalin sendiri. Mamahnya pulang lagi, mau ngasuh Ucup,” ungkap Aya, bercerita tentang kisahnya yang lain.

“Lah kalau pulangnya, gimana nyebrangnya?” tanyaku.

“Khan banyak orang yang mau nyebrangin,” jelas Aya.

Owh, usianya yang dini, memang dia telah mulai dewasa.

Dalam keseharian pun, amat jarang aku temui dia merengek rewel, meminta perhatian dari orang tuanya. Yang ada, dia memang terlihat tangguh dan mandiri.

Dari Aya, aku pun tahu bahwa orangtuanya berhasil mendewasakan Aya secara perlahan. Tentu, tidak hanya mengandalkan satu pihak saja, Bapak dan Mamahnya saling bekerjasama untuk hal tersebut. Makanya, sesekali untuk mengusir kejenuhan Aya, Bapaknya ketika libur mengajak Aya dan adiknya jalan-jalan mengendarai motor yang biasa Bapak Aya pergunakan untuk berangkat kerja.

Selain itu, Adi selaku kakak sulung Aya, selalu membantu dalam pengasuhan kedua adiknya. Adi pun tidak kalah dewasanya dengan Aya, yang juga terlihat mandiri dan tangguh. Beberapa kali Adi membantu Mamahnya menjemurkan pakaian seusai dicuci, ketika Mamahnya mengerjakan pekerjaan yang lain, mempersiapkan keperluan Aya sekolah, atau memandikan si bungsu Ucup.

Yap, orangtua Aya, telah berhasil melatih dewasa terhadap anak-anaknya sejak dini, sehingga mereka pun rela dalam segala keadaan (baik masalah ekonomi maupun kasih sayang orangtua). Dan kami, aku dan istri harus belajar yang satu ini, jika kelak kami dikaruniai 2, 3 atau bahkan 5 anak sekalipun.

tulisan yang agak ngasal untuk diikutkan dalam lombanya mba ida

//SEMOGAtakLELAH//

Iklan
Kategori:Tak Berkategori Tag:

SAYAdiINGATkan

Juni 25, 2010 2 komentar

Berjama’ah Ashar pun telah usai. Satu per satu meninggalkan masjid, menuju tempat aktivitasnya masing-masing. Seusai berdoa, saya dan teman seperjuangan pulang bersama menuju tempat kerja, belum waktunya pulang loh, hanya rehat sejenak untuk melaksanakan sholat Ashar.

Baca selanjutnya…

Kategori:Tak Berkategori Tag:, ,