Beranda > Tak Berkategori > CEMBURUNYAeman,SAYANGNYAeman

CEMBURUNYAeman,SAYANGNYAeman

“Biarin ntar pipinya ade, Eman cubit yang kenceng. Trus Eman mau lempar ade ke sawah.”

Demikianlah sebuah gerutuan Eman (baca: Eu-man, dengan gaya sunda), atas kecemburuannya terhadap Faizah, adiknya yang lahir baru sebulan yang lalu.

Eman adalah putra sulung dari keluarga yang merupakan teman kerja istriku di sebuah Sekolah Dasar Islam Terpadu (SDIT) di daerah Cibungbulang Bogor. Usia Eman kini sekitar 2 tahun. Ya, walau usianya masih balita, tetapi komunikasi dengan orang-orang yang dewasa sudah bisa terjalin dan nyambung, tentu dengan gaya kelucuan dan keluguan sebagaimana anak balita pada umumnya. Pendek kata, sudah bisa diajak ngobrol.

Istriku kurang lebih tahu perkembangan Eman setiap harinya, karena memang keluarganya tinggal masih satu lingkungan dengan SDIT, tempat istri dan orang tua Eman bekerja. Termasuk salah satunya adalah gejala-gejala kecemburuan Eman terhadap Faizah.

Pernah suatu kali Eman diingatkan oleh orangtuanya untuk berhati-hati untuk tidak menginjak kaki adiknya. Reaksinya adalah bukan mentaati peringatan orangtuanya, tetapi Eman malah menyengaja menginjak kaki adiknya, walau tidak sampai menyakiti adiknya.

Dan pernah juga suatu kali, istriku coba menggoda Eman.

“Eman, ambilin kain gendongan adenya dong. Bu Dewi mau ngajak ade Faizah jalan-jalan ya?!” kata istriku.

“Ga boleh, ga boleh,” tolak Eman, sedikit cemberut. Berusaha mencegah istriku untuk mengajak Faizah. Ya, kala itu, Eman memang sedang asyik memperhatikan Faizah. Sesekali, pipi Faizah diciumnya atau kadang-kadang kepala Faizah dibelai dengan tangan mungilnya.

“Bu Dewi ambil sendiri ah….” goda istriku lagi.

“Ya udah biarin, biarin ntar pipinya ade, Eman cubit yang kenceng. Trus Eman mau lempar ade ke sawah,” gerutu Eman.

Eit, mau dilempar ke sawah? Waduh. Ya, rumah Eman memang berdekatan dengan sawah. Makanya, untuk memuaskan rasa cemburu kepada adiknya, Eman ingin melemparnya ke sawah.

Tapi tunggu! Walau Eman cemburu, itu hanya sesaat dan tidak akan terealisasi (untuk melempar Faizah ke sawah). Namanya juga anak kecil, balita pula. Dan buktinya…

“Eit, kok mo dilempar ke sawah sih? Ya udah, ade Faizah buat Bu Dewi aja yah,” kata istriku, tambah menggodanya.

“Jangan, jangan. Faizah kan adenya Eman,” cegah Eman. Ternyata Eman pun sayang adiknya.

Ya, Eman, Eman, walau cemburu, tetapi tetap sayang juga kepada Faizah.

Oret-oretan ini diikutkan dalam lombanya mba ida

//SEMOGAtakLELAH//

Iklan
Kategori:Tak Berkategori Tag:
  1. Belum ada komentar.
  1. No trackbacks yet.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: