Beranda > Tak Berkategori > PAKwali(DEPOK),TITIPadikSAYAya

PAKwali(DEPOK),TITIPadikSAYAya

Pertama

Semula saya bermaksud untuk mengkuliahkan adik saya yang kedua selulus dia dari SMA. Saya malah sangat berkeinginan mengkuliahkannya di perguruan tinggi, kalau bisa sih masuk IPB. Saya tekadkan dalam hati, SAYA MAMPU, Insya ALLAH selalu ada jalan.

Namun…

Kedua

“Alhamdulillah A, ifa diterima di SANYO.” Kurang lebih demikian nada sms yang saya terima dari sang adik. Alhamdulillah.

Komentar pembaca : Loh kok nyambungnya ke pekerjaan sih, bukannya di awal tadi si adik mo kamu biayain untuk kuliah bro?

Komentar penulis : Nyantai lur, stay cool. Ikutin aja cerita selanjutnya ya. Duduk yang manis, pasang wajah yang berseri-seri, jangan lupa, senyumannya dong… 🙂

Selulus SMA, Sang adik memutuskan untuk tinggal bersama keluarga bibi yang tinggal di daerah Cibinong. Maksudnya sih, agar mempermudah akses dalam hal cari mencari kerja. Maklumlah di daerah kami tinggal, lahan pekerjaan masih terbilang terbatas, selain memang kesempatan berwirausaha masih terbuka dengan sangat luas.

Selanjutnya, hari-harinya disibukkan dengan tulis menulis dan kirim mengirim surat lamaran. Kirim sana, kirim sini, dari satu perusahaan ke perusahaan yang lain.

Lelah. Mungkin sang adik mengalami lelah, tapi tetap tanpa patah semangat. Dia memang terlihat tidak ingin lagi bergantung, terutama kepada orang tua kami. Sang adik pun terus berusaha sampai akhirnya sang adik diterima di perusahaan. Alhamdulillah.

Pernah suatu hari saya berkunjung ke rumah Bibi dan kebetulan sang adik sedang ada di rumah. Sang adik pun mulai bercerita perihal pekerjaan yang dia lakoni. Mulai dari teman-teman pekerjaan, pembagian ship kerja yang digilir seminggu malam, seminggu pagi, dan sampai sang adik pun menunjukkan tangannya dengan kuku-kuku yang tidak indah lagi (untuk ukuran perempuan) setelah sang adik bekerja di perusahaan tersebut, karena memang aktivitas pekerjaannya lebih banyak menggunakan tangan dan bersinggungan dengan kimia.

Hhmm, hati kecil ini bergumam, “Kasian adikku ini. Tapi biarlah, biarlah dia belajar, dia memang mesti belajar. Paling tidak dia bisa merasakan bagaimana kala ortu mencari nafkah untuk anak-anaknya. Walau, saya kira, pembelajaran ini masih dini, di kala usianya masih belia.”

Awalnya sih, sang adik sudah berkeinginan untuk keluar dari perusahaan tersebut, pun demikian dengan usul saya apalagi setelah mendengar saudara yang melarang anaknya untuk bekerja di perusahaan itu. Karena ketidak cocokan pekerjaan untuk wanita muda. Tapi, niat keluar pun diurungkan setelah sang paman memberi saran, “Jalanin dulu aja, sambil cari-cari pekerjaan lain yang lebih baik. Daripada keluar, terus pekerjaan yang lain belum dapet-dapet, malah yang ada jadi males deh, akhirnya pengangguran.”

Yap, sang adik pun menerima saran sang paman. Dia tetap bekerja di tempat tersebut, sambil searching pekerjaan yang dilakoninya. Mm, adik adik, memang sejak SMA ga mau diem sih orangnya. Walau badannya memiliki kelemahan, yang kadang-kadang pingsan, tapi organisasi tetep dijalaninya. Ortu dan saya pun tetep mendukung, selama itu tidak melanggar Syari’ahNya.

PT Sanyo, yang menjadi target lamaran yang akan dilayangkan sang adik. Dengan dibantu sang Bibi, sang adik mempersiapkan segala berkas lamaran, dibundel salam satu amplop, siap kirim. Dan kesempatan ship malamnya, sang adik manfaatkan untuk mengirimkan lamaran dengan mendatangi langsung PT Sanyo. Tak lupa, sang Bibi pun mengantar hingga depan gerbang, yang disana hanya bisa ketemu dengan pak satpam.

“Maaf bu, sekarang mah surat lamaran harus dikirim via pos.” Diiringi senyumnya yang mengembang, pak satpam pun memberikan informasi.

Owh begitu ya, gumam sang adik dan sang bibi. Keduanya pun kembali, tentu dengan rencana berikutnya. Kirim lamaran via pos. OK.

Berkas lamaran pun dirancang ulang untuk dikirim via pos. Lalu, plung, surat lamaran pun dititipkan ke kantor pos, tanpa ketinggalan pranko kilat khusus agar cepat sampai di tempat tujuan, walau sebenarnya Cibinong-PT Sanyo Depok tidaklah jauh, cukup Rp4000 sudah bisa kembali ke Cibinong. Tetep target perusahaan yang akan dilamar, PT Sanyo.

Selanjutnya menunggu, semoga ada panggilan, dan sang adik pun tetep bekerja di tempat semula.

Beberapa hari pun terlewati, tanpa ada kabar dari PT Sanyo. Sekedar balasan, say hello pun tidak ada. Mmm, memang belum rezekinya bekerja di tempat yang lebih baik. Tetep jalanin dulu yang ada deh, gumam sang adik.

Nah, suatu hari, petualangan melamar ke Sanyo pun terdengar oleh tetangga sang Bibi, yang kebetulan sudah bekerja di Sanyo beberapa tahun.

“Ya, kalau lamaran dititipin pak satpam atawa dikirim via pos, biasanya sih sampenya ke tempat sampah. Apalagi kalau sedang tidak ada lowongan pekerjaan.” komentar sang tetangga.

“Ya sudah buat lagi lamarannya, nanti saya bawa langsung lamarannya, semoga ada jodoh.” saran sang tetangga. Yap, lampu kuning menyala, semoga nanti akan berubah bukan lampu merah tetapi lampu hijau.

Sang adik pun bersemangat. Satu bundel lamaran terbungkus rapi dan segera diserahkan kepada sang tetangga.

“Alhamdulillah, A, lamaran Syifa diterima. Besok Syifa mau tes.”

Alhamdulillah, akhirnya lamarannya diterima juga. Tapi, sang adik harus pinter-pinter bagi waktu, karena pekerjaan yang semula belum hendak ia lepaskan. Jaga-jaga kalu di Sanyo tidak lulus tes. Yang saya tahu sebagaimana yang dikabarkan sang adik, dia akan menjalani empat atau lima tahapan tes. Tes kesehatan, psikotes hingga nanti akhirnya training apakah sang adik layak bekerja di Sanyo atau tidak.

“Alhamdulillah, Syifa lolos semua tes. Insya ALLAH besok sudah mulai kerja” Nah ini kabar berikutnya dari sang adik. Dia diterima kerja di PT Sanyo, untuk awalan kontrak selama tiga bulan. Yang akhirnya juga, sang adik pun resmi keluar dari perusahaan yang semula.

Saya cuman berpesan, “Kerudungnya jangan sampai dilepas ya.” Alhamdulillah, di Sanyo diperkenankan untuk menggunakan kerudung dan menutup aurat secara sempurna, baik laki-laki dan perempuan.

bersambung ke kedua

Sambungan dari pertama

Seiring perjalanan waktu, adik saya pun sudah dinyatakan lulus dari SMAnya, sementara itu uang tabungan saya yang direncanakan untuk biaya masuk ke perguruan tinggi sang adik, belum pun cukup terkumpul. Lagi pula, saya pun punya keperluan yang lain yang juga cukup banyak membutuhkan biaya.

Akhirnya, rencana pun beralih. Walau sebenarnya sang adik sudah didaftarkan ke sebuah perguruan tinggi. Sang adik pun punya rencananya sendiri.

“Ya udah A, Syifa mah kerja aja dulu. Entar sambil-sambil kerja, syifa nabung buat biaya kuliah.” Demikian rencananya.

Dengan segala kemampuan seiring dengan keterbatasan saya, saya pun tidak bisa mencegah rencana dan keinginan sang adik.

Kepada Pak Walikota Depok, titip adik saya ya pak. Adik saya kini sedang mengais rezeki di perusahaan yang domisilinya di Depok. Terima kasih ya Pak. Dan mohon maaf atas segala kekurangan dan kekhilafan saya. Semoga ALLAH senantiasa melindungi kita semua. Amin.

//SEMOGAtakLELAH//

Iklan
Kategori:Tak Berkategori Tag:
  1. Belum ada komentar.
  1. No trackbacks yet.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: