Beranda > Tak Berkategori > SAMSATdepokDANantrian

SAMSATdepokDANantrian

Menunggu adalah satu hal yang membosankan. Bahkan bisa jadi satu hal yang mengesalkan, jika yang ditunggu-tunggu dalam ketidakpastian atau barangkali kita pun akan menggerutu dan marah jika sudah menunggu eh dirobot orang. Nah loh.
Yap, ini adalah sebuah cacatan yang lain ketika saya berinteraksi dengan SAMSAT DEPOK, dalam urusan bayar-bayar pajak. Selama tiga kali berkunjung ke SAMSAT DEPOK, masih belum ada perubahan —terkhusus yang menjadi soroton saya pribadi— berkenaan dengan antrian. Oh ya, kalau saya sih keperluannya untuk membayar pajak tahunan kendaraan bermotor dan terakhir urusannya untuk penggantian STNK dan Plat Nomor.

Antrian yang saya kira masih terbilang “ZADUL (ZAMAN DULU)”. Para pemohon (pembayar pajak) datang membawa berkas. Lantas berkas pun diserahkan atau tepatnya ditumpuk bersama tumpukan berkas para pemohon yang lain.

Setelah berkas ditumpuk, para pemohon dipersilakan untuk menunggu di tempat yang telah disediakan. Dan bersiaplah untuk men-switch telinganya masing-masing dalam keadaan on. Jangan lengah! Karena nantinya, berkas pun diproses, akan ada pemanggilan dengan cara menyebutkan nama yang tertera di STNK. Kenapa jangan lengah? Karena jika nama yang dipanggil (kurang lebih tiga kali) dan tidak ada yang empunya, bakalan disimpan di bawah, yang pada gilirannya, bagi dirinya semakin lama masa menunggunya. Mangkanya dalam proses ini, banyak dari para pemohon yang duduknya resah dan gelisah, bahkan untuk memastikan telinganya dalam kondisi switch-on, para pemohon lebih memilih berdiri dan mendekati sumber suara yang memanggil nama, termasuk saya. Ehem…

Dengan sistem antrian seperti ini, dengan analisis yang amat sangat sederhana sekali, memang memungkinkan beberapa kejadian akan terjadi:

  1. Proses yang semakin lama untuk satu pemohon. Saya sih pernah mengalami, datang jam delapanan, dan rampung jam tigaan.
  2. Kongkalikong dengan calo atau juga petugas, karena dengan kongkalikong ini, proses pun akan lebih cepat dan normal. Sang pemohon pun rela (yang dipaksakan) untuk membayar lebih daripada harus menunggu dalam ketidakpastian. Hehe….saya pun demikian euy. Pernah satu kali, pas pertama saya berkunjung ke samsat, setibanya di tempat parkir, saya langsung ditawari oleh seseorang (calo) untuk dibantu prosesi pembayaran pajak. Dan terakhir, pas untuk penggantian STNK dan Plat Nomor.
  3. Perasaan yang tidak puas para pemohon terhadap pelayanan dan kinerja para petugas. Nah, pernah suatu kali saya mendapati salah satu pemohon yang memencet tombol “tidak puas” atas tiga pilihan yang disediakan.
  4. Aktivitasnya kurang lebih hanya menunggu dan menunggu dengan telinga yang switch on terus. Bukannya apa-apa, takut namanya dipanggil, sementara si empunya nama lengah. Akhirnya untuk berbuat apapun ga enak. Kalu ada teman sih enak, bisa gantian nunggunya.

Ehem, saya sih coba berandai, dan mungkin para pemohon yang lain, bilakah sistem antrian seperti tersebut diubah? Bukankah ada sistem antrian yang lebih baik?

Nah pas saya googling tentang antrian di samsat dan ternyata saya dapatkan info bahwa di beberapa samsat sudah menggunakan sistem antrian FIFO (First In First Out), contohnya di Kendal. Hehe, kirain hanya di akuntansi aja istilah FIFO euy.

First In First Out (Masuk Pertama Keluar Pertama), sebagaimana istilah yang ada di akuntansi, memiliki arti kurang lebih yang datang lebih awal akan dilayani lebih dahulu dan akan selesai lebih dahulu, maka pulangnya pun lebih dahulu. Para pemohon akan ditandai dengan nomor antrian.

Berdasarkan pengalaman saya yang merasakan antrian FIFO dengan nomor antrian seperti di bank, kantor pajak, grapari and so on, membuat menunggu itu lebih pasti. Kita pun akan bisa memperkirakan kapan kita akan dipanggil. Paling tidak kalupun terlewat, bisa langsung ditanyakan dengan mengunjukkan nomor antrian.

Ehem, semoga pelayanan publik semakin hari semakin lebih baik dan lebih murah atau malah GRATIS. NISCAYA…

//SEMOGAtakLELAH//

Iklan
Kategori:Tak Berkategori Tag:
  1. Agustus 15, 2010 pukul 7:36 am

    sabar bang..

    • Agustus 16, 2010 pukul 1:19 am

      yup, sabar…
      ini mah sekedar masukan saja… 🙂

  1. No trackbacks yet.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: