Beranda > Tak Berkategori > ANAKsekolahGAboleh

ANAKsekolahGAboleh

Kemarin, pulang ngantor, sore menjelang magrib. Awan hitam menggayut. Terdengar kabar, di sebelah barat sana hujan pun telah turun, deras.

Menelusuri jalanan hitam pekat, dengan debu yang tak terlihat, kepulan asap yang tersamar di antara udara dan cahaya sore yang bersiap meredup dan padam. Berpacu dengan roda-roda lain yang menggilas tanpa ampun jalanan hitam pekat. Sambil mengamati hiruk pikuk makhluk Tuhan yang bernama manusia, sedang bersiap menuju tempat peristirahatan kala malam.

BISkota

Macet. Yap. Tepat di perempatan jalan, si triwarna sedang mendapat giliran berwarna merah. Kendaraan-kendaraan berbaris walau tak teratur. Hati-hati jangan main serobot, disana sedang berdiri manis seseorang berseragam coklat-coklat yang khas. Ups, maaf, orang itu bukan anggota pramuka. Kalu liat rompinya terpampang tulisan jelas dan nyata.. “POLICE”.

“Anak sekolah ga boleh,” saut sang kondektur bus, berusaha menghentikan semangat segerombolan anak sekolah masih lengkap berseragam putih-abu untuk menjadi bagian penumpang bus. Tapi, “Anak sekolah ga boleh naek,” tambah sang kondektur, volumenya pun dinaikkan satu tingkat sebagai tanda penegasan.

Sementara itu, konsentrasi saya sedikit terganggung, namun tetap terjaga. Sedikit bertanya dalam hati, “Lah kok bisa? bukannya sumber penghasilan, dari para penumpang, termasuk dari anak-anak sekolah.”

“Kapok, kapok bawa anak sekolah mah, ga pada bayar,” sang kondektur lebih mempertegas dengan sebuah alasan, tentu alasan yang berdasar pada pengalaman.

Wah, wah, wah, begitu ya anak sekolah teh. Perasaan waktu saya sekolah, saya diajarin untuk berbuat jujur, kepada siapa saja. Dan pengalaman saya mengatakan, ya tetep bayar lah, walau kadang-kadang bayarnya kurang atau malah ga bayar juga sih, kalu kepepet. 🙂

“Saya bayar mang. Beneran. Saya bayar kok,” beberapa anak pun melontarkan pembelaan, agar sang kondektur memberikan izin agar mereka bisa naik bus.

Tapi, sang kondektur tetap pada pendiriannya, ANAKsekolahGAbolehNAEK. Hal ini pun secara tidak langsung disepakati oleh sang supir bus, dengan terus berusaha menjauhkan bus dari jangkauan anak-anak sekolah, apalagi si triwarna sedang beranjak ke hijau.

Ehem, kecil-kecil curang, besarnya gimana ya?

Walau sebenarnya ini tidak bisa digeneralisir juga. Bisa jadi sebenarnya yang berbuat curang itu hanya segelintir orang saja. Kalau ada pepatah mengatakan,

Satu kerbau berkulah, sekandang kena luluhnya

Secara sederhana, pepatah tersebut diterjemahkan: ketika satu orang berbuat kesalahan, sementara yang terkena hukuman adalah banyak orang.

Dan Monggo disimak:

Rasulullah, saw.bersabda: “Pemisalan orang yang mematuhi larangan-larangan Allah dengan orang yang melanggarnya, ibarat satu kaum yang berundi di dalam kapal. Di antara mereka ada yang mendapat bagian di atas dan di antara mereka ada yang mendapat bagian di bawah.  Orang-orang yang berada di bawah jika hendak mengambil air harus melewati orang-orang yang di atas mereka.  Akhirnya mereka berkata, “Jika kita melubangi kapal bagian kita, niscaya kita tidak akan mengganggu orang yang ada di atas kita.” Jika orang-orang yang di atas membiarkan mereka melubangi kapal, niscaya semua binasa.  Tetapi jika orang-orang yang di atas mencegah, maka mereka dan semuanya selamat.”

//SEMOGAtakLELAH//

Iklan
Kategori:Tak Berkategori Tag:
  1. Belum ada komentar.
  1. No trackbacks yet.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: