Beranda > Tak Berkategori > KURANGsatuSATENYA

KURANGsatuSATENYA

Bersiap berangkat menuju tukang soto mie, seba’da shalat ISYA. Setelah sebelumnya mengkonfirmasi perihal tukang sate kepada seorang teman yang kebetulan tukang satenya membuka tenda di depan rumah teman itu. Apakah tukang satenya dagang atau tidak, karena sehari sebelumnya tukang sate tidak dagang.

SATEayam

Insya ALLAH, satenya enak, dapat diterima oleh saya dan istri, mangkanya bisa ketagihan untuk membelinya lagi. Tendanya pun tidak jauh dari kontrakan. Ditambah lagi harganya tergolong murah, dibandingkan sate di tempat lain. Untuk sate ayam Rp800,-/tusuk nya, sate kambing….waduh saya lupa, nanti deh dikonfirmasi ke istri atau ke tukang satenya.

Kembali ke konfirmasi, dagang atau tidaknya tukang sate. “Tidak dagang, kayaknya sih berhenti”, jawab teman tadi via SMS, tanpa penjelasan yang kuat. Saya tanya kenapa. Tidak ada jawaban.

Ya sudah, akhirnya mencari alternatif tempat makan yang lain untuk malam tadi. Akhirnya diputuskan, beli soto mie aja, dengan berbekal nasi dari rumah. Bergaya makan di luar.

Vega-R pun setia untuk menemani kami yang mau “pacaran lagi” di tempat soto mie. Namun, acara “pacaran” pun gagal. Baru pun ban depan si Vega-R akan bertemu dengan jalanan yang hitam legam, saya dan istri setengah terperanjat. “Nah loh, itu gening tukang satenya dagang.” Kami pun mengurungkan niat untuk menikmati soto mie.

“Beli sate aja ya..”

Istri pun bergegas menuju tenda sate. Saya sendiri, ya nyusul dong, nemenin. Apalagi harus menyeberang jalanan malam yang kala itu sedang ramenya lalu lalang kendaraan bermotor.

Di tenda sate. HARAP SABAR, karena yang memesan sate tidak hanya kami. Ada seorang ibu yang memesan 30 tusuk, seorang yang kayaknya memesan 10 tusuk, dan satu lagi yang memesan 10 tusuk, juga tak lupa kami memesan 10 tusuk. HARAP SABAR, karena sate perlu dipanggang/dibakar di bara api, dan memerlukan waktu hingga sate siap dibumbui dan disantap.

Bara api berwarna merah bukan menandakan marah loh, tapi pertanda sudah siap membakar setiap sate. Sate-sate ditata di perapian bara tadi, mereka ikhlas dan pasrah, terhadap perlakuan si tukang sate. Tanpa protes, walau kepanasan. Sang kipas berperan untuk mempertahankan bara api agar tetap menyala. Uhuk-uhuk, asap-asap pun menari lincah kesana kemari tak tentu arah, mengikuti irama sang kipas hingga memenuhi tenda sate.

Menunggu hingga sate matang, akhirnya kami pun kebagian sate yang terbungkus rapi untuk dibawa pulang. Tak lupa, 10 tusuk sate ditukarkan dengan Rp8000,-. Kalau lupa nukar, ya paling-paling disautin tukang sate, disuruh bayar, baru boleh bawa pulang satenya.

Beranjak pulang, kembali ke rumah, kontrakan. Tak sabar lagi untuk menikmati sate yang baru dibakar ditambah bumbu kacang dengan wanginya yang khas. Ehem, amboy kenikmatan sudah pun terbayang di pelupuk mata.

Alat tempur makan pun dipersiapkan untuk menyempurnakan acara makan malam, berduaan. Bungkusan sate pun perlahan-lahan dibuka agar sensasinya menambah indah acara makan malam kala itu. Dan hups…hitung punya hitung, 1,2,3,4,5,6,7,8,9, dan …tidak ada lagi. Sekali lagi, untuk memastikan. Wah bener bin aseli, satenya memang kurang satu nih.

“Ya udah, ntar kalu beli lagi, bilangin ke abangnya, sate yang kemaren kurang satu.”

Walau demikian, acara makan malam tetap berjalan dengan lancar dan nyaman. Sambil diselingi seputar obrolan, “APA YANG KITA PERBUAT PADA ORANG LAIN, AKAN BERBALIK KEPADA KITA”.

//SEMOGAtakLELAH//

Iklan
Kategori:Tak Berkategori Tag:,
  1. Belum ada komentar.
  1. No trackbacks yet.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: