[Arisan Kata] ALLAH Masih Cinta Kita
ALLAH Masih Cinta Kita
Oleh Hasan Sunarto
Apakah engkau tahu kawan?
Kala kita terus senang mengerami dosa
Kala kita tetap enggan bersujud menghamba
Kala kita selalu lalai dan menduakan-Nya
Ternyata…
Allah masih saja sangat cinta kita
Allah tak pernah usai menyayangi kita
Apakah engkau tahu kawan?
Banjir yang setia datang kala tahun berganti
Gempa bumi yang mengundang luapan tsunami
Abu panas yang menebar kala merapi bererupsi
Semuanya…
Sekedar kiamat kecil kawan
Sebagai pengingat atas semua kelalaian
Sebagai penegur atas segala kesombongan
Yang kutahu kawan
Hingga kini bencana datang bertubi-tubi
Kita masih asyik tak menginsyafi diri
Entah sampai kapan kita kan sadar?
Apakah hingga tak ada lagi air mata yang bisa diteteskan?
Ataukah hingga tak ada lagi darah yang dialirkan?
Ataukah hingga sehelai handuk saja yang tersisakan
Sebagai penutup jasad yang akan dikuburkan?
Tapi…
Bagaimana pun kita
Allah akan tetap cinta kita semua
//SEMOGAtakLELAH//
Yes, Berhasil…
Lagi pusing-pusingnya nyusun skripsi, iseng-iseng bongkar-bongkar SECUREDnya file PDF. Setelah Googling, akhirnya mendapatkan cara dengan meng-UNLOCK PDFnya. Tentu programnya harus didownload dulu…..
Untuk program + cracknya .. silakan klik ini
(Puisi 50 Kata) Lelahku, Demi Cinta-Mu
CEMBURUNYAeman,SAYANGNYAeman
“Biarin ntar pipinya ade, Eman cubit yang kenceng. Trus Eman mau lempar ade ke sawah.”
Demikianlah sebuah gerutuan Eman (baca: Eu-man, dengan gaya sunda), atas kecemburuannya terhadap Faizah, adiknya yang lahir baru sebulan yang lalu.
Eman adalah putra sulung dari keluarga yang merupakan teman kerja istriku di sebuah Sekolah Dasar Islam Terpadu (SDIT) di daerah Cibungbulang Bogor. Usia Eman kini sekitar 2 tahun. Ya, walau usianya masih balita, tetapi komunikasi dengan orang-orang yang dewasa sudah bisa terjalin dan nyambung, tentu dengan gaya kelucuan dan keluguan sebagaimana anak balita pada umumnya. Pendek kata, sudah bisa diajak ngobrol.
Istriku kurang lebih tahu perkembangan Eman setiap harinya, karena memang keluarganya tinggal masih satu lingkungan dengan SDIT, tempat istri dan orang tua Eman bekerja. Termasuk salah satunya adalah gejala-gejala kecemburuan Eman terhadap Faizah.
Pernah suatu kali Eman diingatkan oleh orangtuanya untuk berhati-hati untuk tidak menginjak kaki adiknya. Reaksinya adalah bukan mentaati peringatan orangtuanya, tetapi Eman malah menyengaja menginjak kaki adiknya, walau tidak sampai menyakiti adiknya.
Dan pernah juga suatu kali, istriku coba menggoda Eman.
“Eman, ambilin kain gendongan adenya dong. Bu Dewi mau ngajak ade Faizah jalan-jalan ya?!” kata istriku.
“Ga boleh, ga boleh,” tolak Eman, sedikit cemberut. Berusaha mencegah istriku untuk mengajak Faizah. Ya, kala itu, Eman memang sedang asyik memperhatikan Faizah. Sesekali, pipi Faizah diciumnya atau kadang-kadang kepala Faizah dibelai dengan tangan mungilnya.
“Bu Dewi ambil sendiri ah….” goda istriku lagi.
“Ya udah biarin, biarin ntar pipinya ade, Eman cubit yang kenceng. Trus Eman mau lempar ade ke sawah,” gerutu Eman.
Eit, mau dilempar ke sawah? Waduh. Ya, rumah Eman memang berdekatan dengan sawah. Makanya, untuk memuaskan rasa cemburu kepada adiknya, Eman ingin melemparnya ke sawah.
Tapi tunggu! Walau Eman cemburu, itu hanya sesaat dan tidak akan terealisasi (untuk melempar Faizah ke sawah). Namanya juga anak kecil, balita pula. Dan buktinya…
“Eit, kok mo dilempar ke sawah sih? Ya udah, ade Faizah buat Bu Dewi aja yah,” kata istriku, tambah menggodanya.
“Jangan, jangan. Faizah kan adenya Eman,” cegah Eman. Ternyata Eman pun sayang adiknya.
Ya, Eman, Eman, walau cemburu, tetapi tetap sayang juga kepada Faizah.
Oret-oretan ini diikutkan dalam lombanya mba ida
AYAmungilYANGdilatihDEWASA
Tetanggaku, yup tetangga baruku. Mereka selalu memberi inspirasi baru bagi kehidupanku yang belum lama berganti status, suami dari istriku. Benar, sejak 4 April 2010 yang lalu, aku yang baru saja memulai menjalankan episode kehidupan yang berbeda termasuk juga istriku, kami masih harus banyak belajar. Harus banyak belajar, terutama dalam urusan rumah tangga, dan salah satunya adalah anak. Walau kami belum (ada tanda-tanda) dikaruniai anak, tapi tidak ada salahnya kami mulai belajar sejak dini.
Tersebutlah keluarga Aya, yang rumahnya berselang 1 petak kontrakan dari kontrakan yang saya tinggali. Mereka tinggal di kontrakan yang paling ujung.
Kenapa disebut keluarga Aya? Sebenarnya Aya sendiri, memiliki nama asli Zahra, namun kemudian nama panggilan akrabnya baik di rumah dan teman sepermainannya, Aya. Dan Aya merupakan anak perempuan satu-satunya, jadilah keluarga ini dipanggil keluarga Aya.
Dalam urutan keluarga, Aya merupakan anak kedua dari tiga bersaudara, yang kini tengah duduk di Pendidikan Anak Usia Dini (PAUD) yang terletak di kampung sebelah, seberang jalan. Adi adalah kakak sulungnya, yang kini tengah duduk di bangku SMP. Sementara itu adik bungsunya adalah Yusuf, dengan nama panggilan Ucup, usianya sekitar 2 tahunan lebih.
Gambaran keluarga Aya, bukanlah gambaran keluarga yang memiliki harta yang berlebih, bahkan sesekali (atau bahkan sering ya…??!!) Mamahnya meminjam uang kepada bank keliling.
—
“Pa guru, Pa guru, Aya mah di rumah cuman makan mie. Berasnya ga ada, buat masak nasinya,” ungkap Aya, polos, bercerita kepadaku tentang dia dan keluarganya suatu hari.
Aya memang terbilang anak yang supel, walau untuk mengawali pertemanan sangat malu-malu. Begitu pun ketika dia mengenalku. Semula hanya senyum saja yang ia sampaikan, itupun hanya dari kejauhan. Tetapi ketika sudah mengenalku, ia pun memberanikan diri untuk main ke kontrakanku.
Nah, di atas adalah salah satu ungkapan yang jujur dari seorang Aya. Dari ungkapannya kurang lebih aku bisa mendapatkan gambaran, bagaimana Aya telah dilatih untuk memahami keadaan keluarganya sejak usianya yang dini. Bahkan, saya mengira orangtuanya telah melatih Aya untuk mendewasakan dirinya dengan berbagai keadaan.
Saya juga mengira, Aya pun telah dilatih untuk tidak terlalu rewel menerima kehadiran adik kecilnya, Yusuf (Ucup). Hal ini dapat terbukti sekarang, di usianya yang masih dini yang seharusnya mendapatkan kasih sayang kedua orangtuanya yang ekstra, dia pun harus merelakan kasih sayang kedua orangtuanya dibagi kepada adiknya, sehingga untuk dirinya kurang.
“Aya kalau diantar sekolah sama mamah, cuman berangkatnya doang. Terus Aya ditinggalin sendiri. Mamahnya pulang lagi, mau ngasuh Ucup,” ungkap Aya, bercerita tentang kisahnya yang lain.
“Lah kalau pulangnya, gimana nyebrangnya?” tanyaku.
“Khan banyak orang yang mau nyebrangin,” jelas Aya.
Owh, usianya yang dini, memang dia telah mulai dewasa.
Dalam keseharian pun, amat jarang aku temui dia merengek rewel, meminta perhatian dari orang tuanya. Yang ada, dia memang terlihat tangguh dan mandiri.
Dari Aya, aku pun tahu bahwa orangtuanya berhasil mendewasakan Aya secara perlahan. Tentu, tidak hanya mengandalkan satu pihak saja, Bapak dan Mamahnya saling bekerjasama untuk hal tersebut. Makanya, sesekali untuk mengusir kejenuhan Aya, Bapaknya ketika libur mengajak Aya dan adiknya jalan-jalan mengendarai motor yang biasa Bapak Aya pergunakan untuk berangkat kerja.
Selain itu, Adi selaku kakak sulung Aya, selalu membantu dalam pengasuhan kedua adiknya. Adi pun tidak kalah dewasanya dengan Aya, yang juga terlihat mandiri dan tangguh. Beberapa kali Adi membantu Mamahnya menjemurkan pakaian seusai dicuci, ketika Mamahnya mengerjakan pekerjaan yang lain, mempersiapkan keperluan Aya sekolah, atau memandikan si bungsu Ucup.
Yap, orangtua Aya, telah berhasil melatih dewasa terhadap anak-anaknya sejak dini, sehingga mereka pun rela dalam segala keadaan (baik masalah ekonomi maupun kasih sayang orangtua). Dan kami, aku dan istri harus belajar yang satu ini, jika kelak kami dikaruniai 2, 3 atau bahkan 5 anak sekalipun.
tulisan yang agak ngasal untuk diikutkan dalam lombanya mba ida
//SEMOGAtakLELAH//
HUJANpunMENGIRINGIsoreINI
“It’s time to go home,” hatiku kegirangan. Jam dinding telah pun tepat menunjukkan pukul 16.30, yang sepakat dengan waktu yang tertera di komputer yang kugunakan ini.
“Hupft…,” sedikit ku menghela napas. Langit di luar sana menunjukkan gejala-gejala seperti kemarin.
Kemarin sore, sang hujan telah dengan gagah menunjukkan gigi taringnya, “AKULAH HUJAN…HAHAHA…..” Gagah nian.
Dan kini, gejalanya semakin meyakinkan, bahwa akan kembali turun hujan, bakal lebat. Semangatku menciut, namun tetap kujaga. Aku memang harus pulang. Di rumah ada seseorang yang sedang menanti “pangerannya”.
Tik…tik…tik…lalu brrr……. Tanpa tedeng aling-aling buliran air yang mulanya hanya beberapa saja, semakin lama semakin menghebat dan banyak. Hujan memang lebat.
“Alamatun pangeran pulang telat ini mah,” gumamku. Atau…mau basah-basah lagi seperti kemarin.
Dan mungkin kuyakinkan…..”Sepertinya berbuka kali ini, tanpa ditemani seseorang yang sedang menunggu di rumah sana.”
hiks…
//SEMOGAtakLELAH//
SAKITNYAmasihKERASA
“It’s time to sahur,” pekikku pelan.
“Ups, aduh ko…ko…sakit,” aku berusaha untuk bangun, namun punggungku terasa sakit. Hanya berguling dan berguling, aku kesusahan untuk bangkit.
Kebetulan istriku pun telah bangun, masih dalam ‘fase mengumpulkan nyawa’.
“De’ bangun duluan ya, punggung ka’ sakit nih, susah bangun.”
Kebiasaan kami, untuk memulai sahur, biasanya kamar mandi adalah tempat pertama yang kami kunjungi. KUMUR-KUMUR dan CUCI MUKA, untuk menghilangkan rasa kantuk yang masih tersisa. Biasanya aku yang bangun pertama.
“Eh, kok sakit ka’? Sebelah mana yang sakit?” Istriku pun belum beranjak dari tempat tidur, lantas mulai memijat-mijat punggungku, lembut, penuh perhatian.
“Ya nih sakit, punggungnya. Kayaknya posisi tidur salah.”
Kata orang sih istilahnya salah bantal. Tapi aku tidak hendak menyalahkan yang lain. Ini memang kesalahanku.
“Ya sudah, de’ cuci muka dulu aja terus siapin buat sahur. Ka’ coba bangun pelan-pelan. Semoga bisa.”
Istriku pun melepaskan pijatannya. Tersirat di wajahnya ada rasa cemas yang tersisa. Ia pun beranjak meninggalkan aku yang sedang kesakitan dan berusaha untuk bangun, paling tidak bangun untuk duduk.
Dan huft……
“Yes, Alhamdulillah akhirnya bisa duduk juga.”
—–
Hingga tulisan ini diterbitkan, rasa sakitnya pun masih kerasa. Tetap Alhamdulillah, masih bisa beraktifitas….





KOMENteranyar